Mengejar Gerhana ke Bumi Sriwijaya

Inggita NN
24 May 2019

Gerhana matahari total, fenomena alam yang langka dan ditunggu-tunggu kehadirannya oleh warga dunia, berkenan singgah di Indonesia di awal Maret tahun 2016. Tentu momen ini tidak disia-siakan oleh para pelancong. Ratusan wisatawan mengalir ke lokasi-lokasi dimana gerhana matahari total ini dapat disaksikan. Kami pun tak luput dari euphoria "kejar gerhana" ini dan memutuskan nge-roadtrip ke Palembang.

Mengapa Palembang?

Kota ini adalah titik terdekat dalam lintasan gerhana matahari total dari tempat tinggal kami, Jakarta. Palembang juga daerah tujuan wisata kuliner dan kultural-sejarah yang sukar ditepis dayatariknya oleh kami pehobi jalan dan jajan ini.

Berangkat!

Road trip mempunyai pesonanya sendiri terutama bagi kami yang senang melancong bersama teman-teman. Febi dan Ichil menjemput jam 20.00 dan kami bertiga pun berseru "Berangkaaaaaaat!" Mobil Hyundainya Ichil nampak sudah dipenuhi stok air mineral dan peralatan masak.

Buat kalian yang hobi ngeroadtrip pasti tahu perasaan kita pas naik ke mobil road trip kita yang sudah dipenuhi perlengkapan perjalanan: keseruan menyambut petualangan yang dilingkupi rasa lega masuk ke "rumah-di-jalan" kita yang ngangenin.

Buat kalian yang hobi ngeroadtrip pasti tahu perasaan kita pas naik ke mobil road trip kita yang sudah dipenuhi perlengkapan perjalanan: keseruan menyambut petualangan yang dilingkupi rasa lega masuk ke "rumah-di-jalan" kita yang ngangenin. Jam 6 pagi kami mendarat di Bakauheni, Lampung, dan langsung cuuuus di jalan tol baru yang posisinya di tengah pulau Sumatera bagian selatan. Pemandangan bentang sawah dan pegunungan yang menakjubkan disiram cahaya pagi menemani perjalanan kami melintasi jalan yang mulus, selama 22 jam.

Om swastiastu, Sumatera!

Perhentian pertama kami adalah di kompleks Mesjid ISLAMIC CENTER yang luas dimana kami numpang masak dan makan siang.

Perhentian kedua... tak disangka-sangka kami tiba di sebuah pura Bali di tengah Lampung. Berkah ganda gerhana matahari ini bersamaan dengan perayaan Nyepi yang intinya mengheningkan cipta tanpa menyalakan api atau cahaya. Warga setempat, keturunan transmigran asal Bali, dengan baju adat, sesajen, dan hiasan di seantero pura menyambut kami dengan ramah. Kami berkeliling kampung sekitar yang sudah bersiap menyambut hari raya ini dengan hiasan janur dan ogoh-ogoh.

Perhentian ketiga menggarisbawahi tema kuliner perjalanan kami: mampir di Pagi Sore yang kabarnya merupakan cikal bakal franchise warung Minang-Melayu yang kini merambah Jakarta. 

Tiada Gerhana di Ampera

Kami menginap di hotel Red Rocket yang minimalis, bersih dan dekat dengan jembatan Ampera sehingga kami bisa sampai di titik pandang gerhana dengan cepat. Ternyata sejuta umat sudah berkumpul sejak subuh, sehingga kami harus berdesakan mencari posisi enak. Matahari bulat berwarna jingga yang perlahan dilingkupi bayangan bulat sempat tertangkap mata kami yang dilindungi kacamata khusus gerhana. Namun pemandangan itu lenyap dimakan awan mendung yang melingkupi langit di atas kepala kami. Pagi itu, 9 Maret 2016, ribuan pemburu gerhana di jembatan Ampera kecewa karena gagal menyaksikan fenomena alam bersejarah itu.

Ribuan orang yang berkumpul itu tak mengeluarkan suara sedikit pun. Selama beberapa menit ketika matahari total tertutup bayangan bulan, suasana hening, gelap, mencekam, semua menahan napas. Sesaat kemudian terang perlahan kembali ke langit, dan seketika keheningan pecah dengan sorak sorai. Mungkin ini yang dirasakan nenek moyang kita di jaman purba ketika mereka mendapatkan sinar mataharinya kembali. Benar-benar sensasi yang tak terlupakan.

Kekecewaan gagal melihat gerhana terobati dengan jalan-jalan seputar Palembang, diawali dengan sarapan di atas warung perahu, diikuti dengan ngopi di pasar 16 yang legendaris itu, mampir di museum sejarah dan budaya, dilengkapi kunjungan ke pulau Kemaro di muara Musi, sungai terpanjang di Nusantara, lalu ditutup dengan mencicipi pempek dan kuliner legendaris kota ini.

Pagoda di Bumi Sriwijaya

Siapa sangka ada pagoda tinggi cantik di Sumatera? Sejarah Palembang memang menunjukkan kota ini merupakan situs pusat peradaban dan perdagangan kawasan Asia Timur yang tersohor sejak abad ke 7 sebagai Kadatuan Sriwijaya. Sayang sisa-sisa sejarah kejayaan telah lenyap. Salah satu jejak sejarah yang tersisa adalah pulau Kemaro yang unik dengan pagoda dan kelentengnya.

Palembang, kami akan kembali!

  • Jembatan AMPERA, ikon kota Palembang. Sensasi road trip, naik ferry, menikmati detik-detik gerhana matahari total bersama ribuan orang, dan wisata kuliner merupakan pengalaman tak terlupakan. (semua photo oleh Inggita NN kecuali yang disebutkan khusus)

  • Tiga TripSista #LostinMerak : harus mengantri masuk ferry bersama puluhan truk. Ongkos sekali menyeberang Rp 347.000 / mobil pribadi plus Rp 15.000/penumpang (2016). Setelah mobil kami diparkir berdesakan dengan puluhan kendaraan lain di dek, kami masuk ruang untuk penumpang yang mirip pelataran mesjid, gegolerandi atas matras. Ada satu ruang tertutup, mungkin ruang karaoke, karena terdengar musik dangdut dari dalamnya. Nampaknya hanya orang-orang yang cape banget yang bisa tidur di tengah kebrisikan dangdut dan celotehan penumpang-penumpang lain di sekitar kita. Disinilah cemilan, bahan bacaan dan obrolan jadi penting banget.

  • Perhentian pertama adalah mesjid ISLAMIC CENTER yang terbesar di Lampung Timur. Febi dan Ichil yang di Jakarta mempunya catering sehat MHF Kitchen pun buka cabang sementara disini.

  • Ichil dan Febi gelar dapur dengan talenan dan kompor di halaman mesjid… dan lahirlah satu mata menu baru: omelet bayi paus, dadar gendut memanjang yang menggoda. World's first Baby Whale omelette!

  • Perhentian kedua mengingatkan kami akan pesona Indonesia yang bhinneka: perkampungan warga eks transmigran asal Bali yang bersiap menyambut Nyepi… di tengah-tengah Lampung!

  • Kelenteng pulau Kemaro - jejak budaya Tiongkok di Sumatera Selatan. Kalau kalian berkunjung kesini, jangan lupa simak legenda romansa pulau Kemaro yang tragis. Untuk kami, yang paling tragis adalah melihat sisa-sisa gerhana di langit Kemaro yang bersih tak berawan. Seandainya tadi pagi kami ngepos di pulau ini, tentu gerhana matahari total dapat kami saksikan tanpa halangan!

  • Legenda lain yang patut dikunjungi adalah RUMAH LIMAS, rumah tradisional warga Palembang di masa lampau. Replikanya dapat kita lihat dalam ukuran asli di Museum Balaputra Dewa yang juga menjadi rumah bagi sejumlah artefak purba jaman megalithikum berupa patung pahatan batu. Ternyata rumah limas inilah yang diabadikan dalam lukisan yang menghiasi uang kertas pecahan Rp10.000!

  • Legenda di Meja Makan Kunjungan ke Palembang tidak lah lengkap tanpa mencoba makanan legendaris yang sudah tersohor ke seantero Indonesia, maka kami pun mampir di warung Musi Rawas untuk merasakan pedas-asam-manis pindang ikan patin, sambal tempoyak, sambal buah, dan favoritku pindang udang.

  • Sambal Tempoyak yang legendaris

  • Kalau ke Palembang, wajib jajan pempek dan otak-otak! Febi dan Ichil mendapat bocoran dapur pempek paling mumpuni, di sebuah jalan kecil sepi di pinggiran Palembang. Nampak para pelancong seperti kami membawa berkardus-kardus pempek berbagai ukuran dan formula. Bagi kalian yang nggak punya banyak waktu jangan kuwatir, di airport pun ada pempek yang sudah dipaketkan rapi untuk dibawa pulang.

  • Pagoda cantik yang dikelilingi pepohonan ini terdiri dari 8 tingkat beratap ukir dan tentu menjadi primadona selfie para pelancong yang harus berperahumotor selama setengah jam dari kawasan jembatan Ampera ke pulau Kemaro. (photo by: Ichil Salam)

  • Berdesakan di sepanjang jembatan Ampera, memburu gerhana. (Photo by: Ichil Salam)

  • Warung nasi terapung di atas perahu-perahu yang parkir di sungai Musi dekat jembatan Ampera. Menawarkan kuliner Palembang di antaranya Pindang Pegagan.  Yang ini lapaknya Mbok War.  Jawa banget namanya!   Sarapan terseru dalam hidup kami! (Photo by: Ichil Salam)